tvOne Newsticker
Jumat, 19 Maret 2010

Kabar Nasional

Pengakuan Williardi Perkuat Dugaan Skenario Penghancuran KPK

Rabu, 11 November 2009 19:17 WIB

Jakarta, (tvOne) 

Ketua Tim Delapan, Adnan Buyung Nasution menyatakan, pengakuan Williardi Wizard tentang rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) untuk menjerat Antasari Azhar dalam perkara pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, makin mempertajam dugaan tentang skenario penghancuran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal itu diungkapkannya di Gedung Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jakarta, Rabu (11/11).

Adnan mengatakan, pengakuan Williardi itu semakin memperkuat dugaan publik bahwa terjadi kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Dimana dugaan kriminalisasi dimulai dari Antasari Azhar, dan kemudian kepada Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah.

"Untuk memperkuat dugaan masyarakat selama ini, bahwa ada rekayasa terhadap Bibit dan Chandra atau KPK, sekarang Antasari Azhar pun juga begitu. Nah, tiga-tiganya kan tokoh KPK, jadi kalau kita lihat skenario ini, kalau ini benar, mudah-mudahan tidak benar, ada skenario ada rekayasa untuk menghancurkan atau mengerdilkan, meruntuhkan KPK," tutur Adnan.

Jika memang skenario itu ada, lanjut dia, maka dapat tergambar bahwa yang pertama dijadikan korban adalah Antasari Azhar, dan kemudian Bibit dan Chandra. "Betul memang ada korban Nasrudin, tapi apa betul Antasari Azhar yang membunuh. Apakah ini suatu jebakan? Atau skenario untuk memang menghancurkan KPK dengan sasaran pertama Antasari Azhar? Sasaran berikutnya Bibit sama Chandra. Kan begitu jadinya. Ini sebuah pertanyaan," kata Adnan.

Pada sidang pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, Williardi Wizard mengaku keterangannya dalam BAP direkayasa untuk menjerat Antasari atas perintah pimpinan Polri.

Adnan menilai, pengakuan Williardi itu saling mendukung dengan dugaan terjadi kriminalisasi terhadap Bibit dan Chandra. Ini menunjukkan terdapat aktor intelektual yang merancang upaya penghancuran atau pengerdilan KPK. "Saya mempertanyakan ada apa di balik ini semua? Siapa yang bermain? Siapa otaknya? Siapa aktor intelektualnya? Itu yang dicari," ujarnya.

Meski tidak mencampuradukkan kasus Antasari dengan perkara Bibit dan Chandra dalam rekomendasinya kepada Presiden, Adnan mengatakan, tim delapan berharap Presiden tergerak hatinya untuk mempertanyakan apa yang salah dengan dua perkara tersebut. Bahkan, Adnan meminta Presiden untuk cepat tanggap menangani masalah tersebut.

"Bagaimana nasib republik ini bila ini semua berlarut-larut. Makanya ini masalah `leadership` bangsa juga, masalah kepemimpinan bangsa kita. Jadi, saya pikir Presiden harus segera tanpa diminta oleh rakyat, tanpa diminta oleh tim delapan harus tergerak hatinya. Beliau sendiri seharusnya cepat tanggap menghadapi masalah ini," demikian Adnan. (Ant)

ai
Bookmark and Share
Komentar Kabar
Kirim Komentar